Archive for July, 2008

D’pot Galery: Antara Rumah, Resto dan Galeri

Thursday, July 31st, 2008

Kendati masih berada di kawasan Raya Gubeng yang padat, lokasi D’pot Galery bisa dibilang tidak begitu strategis. Resto ini tersembunyi di Jalan Bali 15 yang membelah Jalan Raya Gubeng. Bentuk bangunannya yang tak jauh berbeda dengan rumah-rumah hunian di kanan-kirinya kian menyamarkan keberadaan resto ini. Satu-satunya pertanda jika bangunan ini bukanlah rumah biasa hanyalah papan nama berwarna merah dalam ukuran besar bertuliskan “D’pot Galery” yang terpampang di depannya.

Adalah sembilan perempuan sosialita Surabaya yang membidani kelahiran resto ini. Berangkat dari berbagai acara kumpul bareng yang mereka lakukan, munculah ide untuk membuat sebuah restoran. Selain bisa mengakomodasi kepentingan mereka, resto itu juga dapat memberi keuntungan.

Sebagai pendatang baru di tengah belintara industri kuliner Kota Buaya, D’pot Galery harus hadir dengan konsep yang berbeda. Maka dipilihlah konsep galeri yang memang masih belum banyak ditemukan di Surabaya. Kebetulan, satu di antara sembilan pemilik restoran ini hobi melukis. Jadilah berbagai lukisan bunga karya Ibu Hj. Titik itu semakin mempermanis interior resto ini. Bukan sekadar pajangan, lukisan-lukisan dalam berbagai ukuran itu juga dijual.

Selain menjadikan galeri lukisan itu sebagai sisi uniknya, restoran ini juga menawarkan atmosfer rumah yang hangat. Berkunjung ke D’pot Galery pun tak ubahnya dengan pulang ke rumah. Ya, bukan hanya tampak luarnya, penataan bagian dalam resto ini juga mengacu pada dekorasi rumah. Pembagian ruangnya pun menyesuaikan dengan bentuk asal rumah peninggalan Belanda yang ditempati D’pot Galery.

Resto ini memang tidak terlalu luas yang terbagi ke dalam 4 ruang. Dari beranda yang diisi satu meja dengan empat kursi, ruang tamu yang berkapasitas dua meja kecil, ruang utama yang menjadi satu dengan kasir yang didesain layaknya bar corner, serta hall yang diperuntukkan bagi acara-acara khusus yang memang sering digelar di resto ini. “Kami memang tidak mengedepankan kuantitas pengunjung, tapi eksklusivitas pelayanan,” ujar Yudi S, staf pengelola resto ini.

Ada banyak cara yang dilakukan oleh pengelola resto yang mulai beroperasi sejak pukul 11.00 WIB guna menonjolkan eksklusivitas itu. Yang pertama dengan memperkuat kesan homey-nya. Meja kayu berpernish cokelat tua dengan kursi besi yang dililit rotan serta sofa sengaja dipilih untuk mengisi ruang. Ditambah dengan cahaya lampu yang diatur temaram sebagai penerang ruang yang ditata secara minimalis dalam baluran warna krem membuat suasana semakin hangat. mata pun kian dimanja dengan beragam lukisan yang menempel apik pada dinding resto.

Pemandangan di dalam resto semakin mengoda dengan kehadiran tembok pembatas berwarna merah yang memsisahkan ruang tamu dengan ruang utama. Keunikan tembok ini ada pada lubang besar di tengah-tengahnya. Lubang itu digunakan untuk memajang empat buah sisha yang diperuntukkan bagi para tamu. Dari lubang itu, pengunjung di ruang tamu dapat melihat suasana di di ruang utama, demikian pula sebaliknya.

Tak cukup hanya memanjakan pengunjung dengan atmosfer homey-nya itu, D’pot Galery juga memberi sentuhan personal dalam pelayanannya. Salah satunya lewat hadiah kejutan yang diberikan kepada pelanggan mereka yang sedang merayakan even khusus, seperti ulang tahun. Fasilitas wi-fi juga disediakan bagi para pebisnis yang tengah bernegosiasi atau sekadar melepas penat di resto ini. Tidak ketinggalan life entertainment berupa life electone yang memungkinkan para tamu beradu kebolehan dalam bernyanyi.

Sementara untuk urusan hidangannya, D’pot Galery menyajikan hidangan oriental, western dan lokal. Dari berbagai varian menu yang disuguhkan resto ini, Yudi mengaku jika Kawis Squash, Roti Jala Gulai Kambing, Oxtail Steak dan Tom Yam Noodle yang menjadi favorit pengunjungnya. Kendati diolah dari bahan-bahan lokal, kecuali oxtail yang diimpor dari Australia, rasa hidangan resto ini sungguh menggoda lidah.

Anda pun rasanya tak perlu ragu lagi soal kelezatan hidangan resto ini. Pasalnya, Bondan Winarno pun pernah mampir ke D’pot Galery dalam acara kuliner yang dipandunya di salah satu televisi swasta nasional. Selain soal rasanya yang menggigit, aneka suguhan D’pot Galery juga disajikan dengan menarik mungkin. “Sebagus apapun restoran, kalau penyajian makanannya kurang menarik, para pelanggan akan lari juga,” ujar Yudi tentang filosofi resto itu. (kario)

Bertamasya ke Kebun Organik

Thursday, July 24th, 2008

Makanan organik tidak sebatas makanan yang tidak terkontaminasi pestisida atau pupuk kimia buatan lainnya,lho. Bukan hanya komoditasnya yang alami, ekosistem perkebunan organik juga harus alami. Itu sebabnya perkebunan organik juga bisa menjadi destinasi menarik eduwisata.

 

Rasa penat setelah menempuh perjalanan selama lebih kurang 2,5 jam dari Surabaya, hilang begitu kami memasuki wilayah Batu. Udara segar pegunungan langsung menyapa begitu kami tiba di kota ini. Segarnya hawa pegunungan itu seolah memberi efek relaksasi, dan “mengusir” semua racun yang mengendap dalam tubuh dari udara Surabaya yang telah terkontaminasi.

 

Bukan tanpa sebab jika kami begitu bersemangat ketika berkunjung ke kota ini. Kota Batu sudah lama menyandang predikat sebagai kota peristirahatan. Kota ini dijuluki “Swiss Kecil di Pulau Jawa” karena hawa pegunungannya yang sejuk. Ditambah dengan tanahnya yang subur, membuat kota yang terletak 15 km di sebelah barat Kota Malang berkembang sebagai kawasan agropolitan. Industri pertanian berkembang cukup pesat, dengan beberapa komoditas andalan seperti apel, sayuran, dan bawang putih.

 

Industri pertanian ini sempat guncang ketika banjir lumpur panas Lapindo menghambat jalur transportasi dari Batu menuju Surabaya. Syukurlah kendala distribusi itu kini mulai bisa ditanggulangi, meskipun jalur transportasi pada rute itu belum bisa pulih seperti semula. Asal tahu celahnya, jalur rawan macet itu masih bisa disiasati.

 

Seperti yang kami alami hari itu, saat berkunjung ke Herbal Estate, salah satu perkebunan organik seluas 3 Ha di Kota Batu. Kami pun cukup beruntung mengikuti saran Chef Chris, Executive Sous Chef Hotel Majapahit Surabaya yang ikut bersama rombongan, untuk berangkat pagi-pagi guna menghindari macet di ruas Jalan Porong itu. Perjalanan kami nyaris tidak mendapat banyak hambatan.

 

Berangkat dari Surabaya pada pukul 06.00 WIB, kami memasuki halaman perkebunan Herbal Estate di Jl. Indragiri 7, Batu tepat pada pukul 09.00 WIB. Sesampainya di sana, satu per satu kami turun dari mobil sembari menghirup dalam-dalam udara Kota Batu yang masih “perawan”. Sambil menunggu pengelola kebun datang, Sindy dan Arta, dua orang lay outer Selera, yang memang sengaja saya ajak untuk menikmati “tur wisata” ini segera beraksi dengan kamera digitalnya. Berbagai jenis hewan, bunga dan sayur yang ada di pelataran kebun itu difoto. Tidak terkecuali kupu-kupu yang beterbangan di tengah merdu kicau burung yang bertengger pada dahan-dahan pohon yang tumbuh kebun itu. Sementara Lukas, sang fotografer, lebih memilih untuk tetap asik dengan “sahabat” lamanya: rokok!

 

Bukan sekadar organik

Tak berapa lama, pengelola kebun pun tiba mengendarai Mitsubishi L300 bak terbuka. Ia baru saja datang dari Bromo, membawa pulang dua buah bibit pohon walisongo. Setelah diperkenalkan oleh Chef Chris, Danang Purcahyo, site coordinator Herbal Estate, langsung mengajak kami berkeliling kebun yang asri dan hijau itu. Tak lupa ia juga berbagi kisah seputar perkebunan organik.

 

“Banyak orang yang masih menganggap makanan organik itu sebagai makanan yang tidak diberi pestisida dan pupuk kimia buatan lainnya,” terang Danang membuka pembicaraan. “Padahal, kalau kita bicara perkebunan organik, itu juga mencakup bagaimana membangun ekosistem perkebunan yang alami,” lanjutnya.

 

Danang kemudian bercerita panjang lebar mengenai kesalahan persepsi yang selama ini ada seputar makanan dan pertanian organik. Salah satunya tentang ekosistem alami itu. Menurutnya, ekosistem alami tidak hanya berkutat pada tanaman yang dibudidayakan saja, tetapi melingkupi semua unsur yang ada dalam perkebunan itu. Baik tanaman dan hewan, termasuk di dalamnya tumbuhan serta hewan pengganggu. Semua unsur itu harus ada untuk membentuk rantai makanan dan menjamin keseimbangan di dalam lingkungan kebun organik tersebut.

 

Itu sebabnya, menurut Danang, ketika mengembangkan perkebunan organik, selain menanam tanaman budidaya, pengelola perkebunan juga harus menyediakan tanaman penyangga. Karena pertanian organik tidak menggunakan pestisida dan sejenisnya untuk memerangi hama, maka pengendali hama itu diperoleh dari musuh alami hama tersebut.

 

Dan, di situlah peran tanaman penyangga yang berfungsi sebagai habitat predator alami hama, juga sebagai penangkal hama. Danang kemudian mencontohkan fungsi pohon kemiri yang menjadi tempat bersarang burung tertentu yang menjadi musuh alami ulat dan serangga pengganggu. Selain itu, masih ada pula tanaman penny royal yang berperan sebagai kontrol semut. Tanaman ini mampu mengeluarkan sejenis senyawa kimia yang bisa membuat semut pergi menjauh.

 

“Semakin beragam satwa yang ada, semakin bagus perkebunan organik itu. Dan, satwa itu harus datang sendiri, bukan sengaja didatangkan, yang pada akhirnya akan membentuk rantai makanan alami di lahan tersebut,” terang Danang. Jenis dan jumlah satwa itu akan terus bertambah sampai batas optimal keseimbangan ekosistem tersebut.

 

Selain itu, Danang juga meluruskan pandangan tentang hama dalam pertanian organik, yang tidak dipandang sebagai momok, tetapi lebih sebagai pembawa pesan terhadap kondisi perkebunan itu. “Kalau hama sudah banyak, berarti saya diberitahu kalau kebun sudah mulai rusak. Ekosistemnya tidak seimbang lagi,” imbuh Danang.

 

Butuh perlakuan khusus

Ternyata, untuk mengembangkan perkebunan organik yang ideal cukup susah karena syaratnya tergolong berat. Salah satunya lokasi perkebunan yang harus menggunakan tanah yang belum pernah dibudidayakan. “Tapi, siapa juga yang mau buka kebun di tengah hutan belantara?” tanya Danang sembari menunjuk ke arah Gunung Arjuno yang tampak jelas dari Kota Batu.

 

Danang lantas memberitahu cara paling mudah untuk menyiasatinya, yaitu lewat konversi tanah. Selama dua tahun sebelum penyebaran benih, tanah disterilkan dari berbagai unsur kimiawi yang mencemarinya. Caranya dengan tidak menanami tanah tersebut dalam rentang waktu itu. Setelah aman dan netral, barulah tanah tersebut ditanami dengan bibit tanaman organik.

 

Dan, bukan sembarang bibit, benih tanaman organik harus diperoleh dari galur murni tanaman yang juga organik. Sebelum mampu menghasilkan bibit sendiri, Herbal Estate mengimpor benih yang sudah mengantongi sertifikat organik. “Kami terpaksa mengimpor benih itu karena Indonesia baru bisa menghasilkan beberapa jenis saja,” terang Danang. “Tapi kini kami sudah bisa mengembangkan bibit sendiri,” lanjutnya. Satu hal yang pasti, pertanian organik tidak boleh menggunakan bibit transgenik, atau bibit yang telah dimodifikasi secara genetik. Biasanya jenis bibit ini diperoleh dari hasil persilangan.

 

Dalam pertanian organik, proses pembibitan itu sangat menentukan keberhasilan penanaman secara keseluruhan. Dari semua benih yang ditabur, hanya delapan puluh persen yang akan tumbuh, sementara dua puluh persennya akan rusak. Menurut danang, itu hal yang lumrah. Dan, untuk menjamin kualitas bibit tersebut, Herbal Estate memiliki pekerja yang khusus menangani masalah pembibitan ini.

 

Selain ditangani oleh tenaga khusus, benih-benih itu juga memerlukan perlakuan khusus dan dikembangbiakkan di dalam greenhouse. Saya sempat menyaksikan seorang pekerja yang menyemai benih tumbuhan penniroyal. Benih yang halus dan tipis itu langsung “hilang” begitu ditabur di atas wadah kotak plastik. Kompos dan pupuk kandang digunakan sebagai media tanam.

 

Setelah pembibitan, hal berikut yang perlu mendapat perhatian adalah pemupukan. Dari pupuk itulah tanaman memperoleh nutrisi agar dapat tumbuh dengan baik. Nah, sebagai perkebunan yang serba alami pupuk yang digunakan dalam perkebunan organik juga harus alami, berupa kompos dan pupuk kandang. Pertanian organik memiliki filosofi tersendiri dalam pemupukan itu, di mana pupuk tidak ditujukan langsung kepada tanaman, tetapi memberi kepada tanah. Dengan memberi “nutrisi” pada tanah, selanjutnya tanah itulah yang menyediakan makanan bagi tanaman. “Feeding the soil that feeds the plants, itulah filosofi pertanian organik,” terang Danang.

 

Selain faktor-faktor di atas, kualitas air yang digunakan untuk mengairi perkebunan juga tak boleh sembarangan. Baku air yang digunakan harus bebas dari residu. Dan, di Herbal Estate, baku air yang digunakan berkualitas air layak minum dalam keadaan mentah. Danang lantas menawari kami untuk meminum langsung air itu. Antara percaya dan tidak, saya dan Sindy memberanikan diri meminumnya.

 

Sindy bahkan memasukkan air itu ke dalam wadah air minum kemasannya yang telah kosong. Rasanya segar dan tak satupun dari kami yang mengeluh sakit perut, bahkan setelah kami sampai di Surabaya. Namun hati ini agak nelangsa ketika tak berapa lama kemudian kami melihat Chef Chris asik membersihkan mobil yang kami tumpangi dengan air yang sama. “Itukan air yang kita minum tadi,” ujar Sindy masygul.

 

Beragam warna pada satu petak

Setelah melihat-lihat proses pembibitan di greenhouse, kami kemudian diajak untuk berkeliling ke areal perkebunan Herbal Estate lainnya. Semuanya ada 62 jenis tanaman yang dibudidayakan di perkebunan ini, yang terdiri atas sayur, herbs dan bunga. Berbeda dengan pertanian umum, di mana satu petak tanah diperuntukkan hanya bagi satu jenis tumbuhan, pada pertanian organik penanaman itu dikombinasikan antara tanaman utama dan tanaman penolak.

Caranya mirip pola tumpang sari.

 

Sebagai contoh, pada satu petak tanah yang ditanami lettuce juga ditanami kacang panjang. Selain bisa dipanen, kacang panjang itu berfungsi pula sebagai kontrol hama. Dengan pola ini, bisa dibanyangkan bila keuntungan yang diperoleh dari pertanian organik bisa berlipat-lipat. Selain karena mampu menghemat pengeluaran yang tidak memerlukan bahan kimia untuk memaksimalkan hasil panen, semua tanaman yang ditanam juga memberi manfaat.

 

Namun keuntungan dari pola penanaman seperti ini tak hanya itu saja. Dengan menggabungkan beberapa jenis tanaman di dalam satu petak, perkebunan organikpun menjadi lebih berwarna. Itu yang saya saksikan di pinggir sebuah petak yang digunakan untuk menanam selada keriting merah dan selada keriting. Perpaduan warna merah dan hijau dari kedua jenis tanaman itu sungguh indah dipandang mata.

 

Tak jauh dari tempat saya berdiri, ada seorang pekerja yang tengah memanen sayur sawi. Sayur yang telah dibersihkan dari daun-daun yang rusak ditampung ke dalam keranjang plastik. Setelah itu sayur di bawa ke sebuah gazebo yang rindang di tengah kebun itu. Di gazebo itu pula kunjungan kami pada hari itu berakhir. Ada banyak pekerja yang sibuk membersihkan dan memasukkan berbagai jenis sayur dan herbs yang telah dipanen ke dalam wadah plastik berlogo Herbal Estate. Tangan mereka begitu cekatan memilah dan membungkus sayur-sayur itu.

 

Chef Christ pun tak mau ketinggalan. Bedanya, ia tidak memasukkan sayur-sayur itu ke dalam kantong plastik kemasan Herbal Estate, tetapi ke dalam kantong plastiknya sendiri. Katanya sih, buat dimasak setibanya di Surabaya. Hmm, jadi tak sabar ingin mencicipi masakan dari sayuran organik racikan Chef Christ. Apalagi setelah kami mengetahui kisah di balik makanan organik itu. Dan, perjalanan ke perkebunan organik hari itu memang sungguh menyenangkan.