D’pot Galery: Antara Rumah, Resto dan Galeri

Kendati masih berada di kawasan Raya Gubeng yang padat, lokasi D’pot Galery bisa dibilang tidak begitu strategis. Resto ini tersembunyi di Jalan Bali 15 yang membelah Jalan Raya Gubeng. Bentuk bangunannya yang tak jauh berbeda dengan rumah-rumah hunian di kanan-kirinya kian menyamarkan keberadaan resto ini. Satu-satunya pertanda jika bangunan ini bukanlah rumah biasa hanyalah papan nama berwarna merah dalam ukuran besar bertuliskan “D’pot Galery” yang terpampang di depannya.

Adalah sembilan perempuan sosialita Surabaya yang membidani kelahiran resto ini. Berangkat dari berbagai acara kumpul bareng yang mereka lakukan, munculah ide untuk membuat sebuah restoran. Selain bisa mengakomodasi kepentingan mereka, resto itu juga dapat memberi keuntungan.

Sebagai pendatang baru di tengah belintara industri kuliner Kota Buaya, D’pot Galery harus hadir dengan konsep yang berbeda. Maka dipilihlah konsep galeri yang memang masih belum banyak ditemukan di Surabaya. Kebetulan, satu di antara sembilan pemilik restoran ini hobi melukis. Jadilah berbagai lukisan bunga karya Ibu Hj. Titik itu semakin mempermanis interior resto ini. Bukan sekadar pajangan, lukisan-lukisan dalam berbagai ukuran itu juga dijual.

Selain menjadikan galeri lukisan itu sebagai sisi uniknya, restoran ini juga menawarkan atmosfer rumah yang hangat. Berkunjung ke D’pot Galery pun tak ubahnya dengan pulang ke rumah. Ya, bukan hanya tampak luarnya, penataan bagian dalam resto ini juga mengacu pada dekorasi rumah. Pembagian ruangnya pun menyesuaikan dengan bentuk asal rumah peninggalan Belanda yang ditempati D’pot Galery.

Resto ini memang tidak terlalu luas yang terbagi ke dalam 4 ruang. Dari beranda yang diisi satu meja dengan empat kursi, ruang tamu yang berkapasitas dua meja kecil, ruang utama yang menjadi satu dengan kasir yang didesain layaknya bar corner, serta hall yang diperuntukkan bagi acara-acara khusus yang memang sering digelar di resto ini. “Kami memang tidak mengedepankan kuantitas pengunjung, tapi eksklusivitas pelayanan,” ujar Yudi S, staf pengelola resto ini.

Ada banyak cara yang dilakukan oleh pengelola resto yang mulai beroperasi sejak pukul 11.00 WIB guna menonjolkan eksklusivitas itu. Yang pertama dengan memperkuat kesan homey-nya. Meja kayu berpernish cokelat tua dengan kursi besi yang dililit rotan serta sofa sengaja dipilih untuk mengisi ruang. Ditambah dengan cahaya lampu yang diatur temaram sebagai penerang ruang yang ditata secara minimalis dalam baluran warna krem membuat suasana semakin hangat. mata pun kian dimanja dengan beragam lukisan yang menempel apik pada dinding resto.

Pemandangan di dalam resto semakin mengoda dengan kehadiran tembok pembatas berwarna merah yang memsisahkan ruang tamu dengan ruang utama. Keunikan tembok ini ada pada lubang besar di tengah-tengahnya. Lubang itu digunakan untuk memajang empat buah sisha yang diperuntukkan bagi para tamu. Dari lubang itu, pengunjung di ruang tamu dapat melihat suasana di di ruang utama, demikian pula sebaliknya.

Tak cukup hanya memanjakan pengunjung dengan atmosfer homey-nya itu, D’pot Galery juga memberi sentuhan personal dalam pelayanannya. Salah satunya lewat hadiah kejutan yang diberikan kepada pelanggan mereka yang sedang merayakan even khusus, seperti ulang tahun. Fasilitas wi-fi juga disediakan bagi para pebisnis yang tengah bernegosiasi atau sekadar melepas penat di resto ini. Tidak ketinggalan life entertainment berupa life electone yang memungkinkan para tamu beradu kebolehan dalam bernyanyi.

Sementara untuk urusan hidangannya, D’pot Galery menyajikan hidangan oriental, western dan lokal. Dari berbagai varian menu yang disuguhkan resto ini, Yudi mengaku jika Kawis Squash, Roti Jala Gulai Kambing, Oxtail Steak dan Tom Yam Noodle yang menjadi favorit pengunjungnya. Kendati diolah dari bahan-bahan lokal, kecuali oxtail yang diimpor dari Australia, rasa hidangan resto ini sungguh menggoda lidah.

Anda pun rasanya tak perlu ragu lagi soal kelezatan hidangan resto ini. Pasalnya, Bondan Winarno pun pernah mampir ke D’pot Galery dalam acara kuliner yang dipandunya di salah satu televisi swasta nasional. Selain soal rasanya yang menggigit, aneka suguhan D’pot Galery juga disajikan dengan menarik mungkin. “Sebagus apapun restoran, kalau penyajian makanannya kurang menarik, para pelanggan akan lari juga,” ujar Yudi tentang filosofi resto itu. (kario)

Leave a Reply