Tentang Rasa di Hati

Tahukah  kau?
“Rasa ning ati” bukan untuk disimpan sendiri,
dibiarkan  terkubur jauh di dalam relung hati.
“Rasa ning ati” harus  disuarakan,
dibagi, bahkan dibela mati.
Itu sebabnya aku  harus jujur  padamu, sayang,
tentang semua rasa yang tersimpan  rapi di dalam  hati.
Bukan untuk kau terima, bukan untuk kau  tolak.
Tapi untuk membuka  diri
untuk jujur padamu, padaku,  pada hatiku.
Karena bagiku, hidup akan  lebih mudah kalau kita  berani terbuka.
Soal hasilnya, aku pun tak ambil peduli
karena  aku serahkan sepenuhnya pada jalannya hidup.
Tanpa tendensi walau ada sedikit  ekspektasi.
Tapi tak usahlah kau hiraukan ekspektasi itu.
Biarlah  itu  menjadi urusanku, dan bukannya beban bagimu.

Bukankah  kita sudah terlalu tua untuk hidup bermelodrama?

3 Responses to “Tentang Rasa di Hati”

  1. BiaNda Says:

    wakakakaka
    “sayang” refers to siapa tuuuwww???

  2. lely Says:

    Hidup itu memang melodrama. Tidak tersegmentasi pada golongan usia atau kedewasaan tertentu. Anak Te Ka juga boleh bermelodrama. Asal dia paham dimana tepatnya meletakkan bagian melodrama-nya Hidup ituu…

  3. Aku Says:

    Memang aku tak tahu,
    Jangankan hatimu, bahkan hatiku juga
    Mungkin suara hati bisa di suara,
    Namun tiada suara sebenarnya
    Aku pun tak pasti kejujuran ku dan kejujuran mu
    Aku juga sudah biasa diterima atau ditolak
    Jangan….jangan…jangan
    Dibuka segalanya
    Aku belum berani menerima
    Lebih rela menanti dan menunggu
    Indah rasa tika semua belum nyata
    Bagaikan yang dinanti di bawah saji
    Aku pun suka kembali atas jalan azali
    Terima kasih kesudian mu memikul beban itu

    Kerana aku masih terlalu muda untuk hidup dengan suara

Leave a Reply