Tentang Rasa di Hati
Tahukah kau?
“Rasa ning ati” bukan untuk disimpan sendiri,
dibiarkan terkubur jauh di dalam relung hati.
“Rasa ning ati” harus disuarakan,
dibagi, bahkan dibela mati.
Itu sebabnya aku harus jujur padamu, sayang,
tentang semua rasa yang tersimpan rapi di dalam hati.
Bukan untuk kau terima, bukan untuk kau tolak.
Tapi untuk membuka diri
untuk jujur padamu, padaku, pada hatiku.
Karena bagiku, hidup akan lebih mudah kalau kita berani terbuka.
Soal hasilnya, aku pun tak ambil peduli
karena aku serahkan sepenuhnya pada jalannya hidup.
Tanpa tendensi walau ada sedikit ekspektasi.
Tapi tak usahlah kau hiraukan ekspektasi itu.
Biarlah itu menjadi urusanku, dan bukannya beban bagimu.
Bukankah kita sudah terlalu tua untuk hidup bermelodrama?
August 25th, 2008 at 5:34 am
wakakakaka
“sayang” refers to siapa tuuuwww???
November 11th, 2008 at 7:28 pm
Hidup itu memang melodrama. Tidak tersegmentasi pada golongan usia atau kedewasaan tertentu. Anak Te Ka juga boleh bermelodrama. Asal dia paham dimana tepatnya meletakkan bagian melodrama-nya Hidup ituu…
November 4th, 2009 at 7:23 am
Memang aku tak tahu,
Jangankan hatimu, bahkan hatiku juga
Mungkin suara hati bisa di suara,
Namun tiada suara sebenarnya
Aku pun tak pasti kejujuran ku dan kejujuran mu
Aku juga sudah biasa diterima atau ditolak
Jangan….jangan…jangan
Dibuka segalanya
Aku belum berani menerima
Lebih rela menanti dan menunggu
Indah rasa tika semua belum nyata
Bagaikan yang dinanti di bawah saji
Aku pun suka kembali atas jalan azali
Terima kasih kesudian mu memikul beban itu
Kerana aku masih terlalu muda untuk hidup dengan suara